Dalam Audiensi Umum pada hari Rabu, 28 Juli 1999,
Bapa Suci merefleksikan neraka sebagai penolakan definitif terhadap Tuhan.
Dalam katekesenya, Paus mengatakan bahwa kita harus berhati-hati dalam
menafsirkan secara tepat gambaran-gambaran akan neraka dalam Kitab Suci.
Selanjutnya, beliau menjeaskan bahwa “neraka merupakan konsekuensi pokok dari
dosa itu sendiri. Daripada tempat, neraka lebih menyatakan keadaan mereka yang
secara bebas dan definitif memisahkan diri dari Tuhan, sumber dari segala
kehidupan dan kebahagiaan.”
1. Tuhan adalah Bapa yang mahabaik
dan belas kasihan-Nya tak terbatas. Tetapi manusia, yang dipanggil untuk
menanggapi kasih-Nya secara bebas, sayangnya dapat memilih untuk menolak kasih
dan pengampunan-Nya sekali untuk selama-lamanya, dengan demikian memisahkan
diri selamanya dari persekutuan bahagia dengan-Nya. Situasi tragis inilah yang
dijelaskan ajaran kristiani ketika Gereja berbicara mengenai siksa abadi atau
neraka. Neraka bukanlah suatu penghukuman yang ditetapkan secara sepihak oleh
Tuhan, melainkan kelanjutan dari penolakan yang dilakukan manusia semasa
hidupnya. Dahsyatnya ketidakbahagiaan yang terjadi akibat kondisi yang tak kita
pahami ini, dengan suatu cara dapat dimengerti dalam terang
pengalaman-pengalaman buruk yang kita alami, yang biasa disebut sebagai hidup
dalam “neraka”.
Namun demikian, dalam arti teologis, neraka
merupakan sesuatu yang lain: yaitu konsekuensi pokok dari dosa itu sendiri,
yang berbalik melawan orang yang melakukannya. Neraka adalah keadaan mereka
yang secara definitif menolak belas kasih Bapa, bahkan pada saat akhir hidup
mereka.
No comments:
Post a Comment