Pandangan Gereja Katholik Tentang
Allah Tritunggal
”Tuhan kita Satu”
dari Kitab Ulangan tersebut adalah Tuhan menyatakan sendiri kepada Musa.
Keyakinan tersebut telah lama hidup di kalangan bangsa Yahudi. Selanjutnya,
Yesus melalui kehadiranNya mengajarkan bahwa Tuhan yang satu itu hakekatnya memiliki
tiga pribadi. Bahwa sejak dua ribu tahun yang lalu sudah dijelaskan Yesus bahwa
Tuhan yang hakekatnya satu itu memiliki tiga pribadi yaitu Bapa, Putra dan Roh
Kudus. Roh Kudus adalah Roh dari Allah Bapa dan Allah Putra.
Bahwa Tritunggal
Mahakudus itu ada sejak awal mula dan sepanjang segala abad. Pandangan yang
memenggal-menggal perjanjian lama adalah era Allah Bapa, perjanjian baru adalah
era Allah Putra dan sekarang adalah era Allah Roh Kudus adalah sangat salah
menurut iman Katolik. Romo dengan mantap menjelaskan bagaimana Allah Tritunggal
Mahakudus ada di setiap jaman secara bersama-sama dan utuh dalam kerjasama ilahi
yang melampaui akal manusia.
Masih ada tradisi di Italia dan beberapa
negara Eropa bahwa ketika orang mengucapkan atau melagukan kalimat ”Kemuliaan
kepada Bapa, Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan
sepanjang segala abad, amin” dilakukan sambil menundukkan badan dengan
penuh hormat ke arah Salib Yesus.
Bagaimana membuat
tanda salib yang benar, sebab tanda salib merupakan identitas orang Katolik.
Menurut tradisi lama orang membuat tanda salib dengan tiga jari yang disatukan
yaitu jempol, telunjuk dan jari tengah. Ketiga jari yang disatukan ini
melambangkan Allah Tritunggal Mahakudus. Kemudian, titik yang disentuh ketika membuat
tanda salib adalah bagian tengah dahi, pusar dan lengan kiri dan kanan. Waah
ternyata puser yang disentuh bukan tengah dada. Romo menjelaskan bahwa artinya
ayunan tiga jari tadi jauh-jauh, yaitu dari dahi ke pusar kemudian ke bahu kiri
dan kanan, maka melambangkan bahwa Allah Tritunggal Mahakudus ingin memeluk
seluruh realitas kehidupan. Oleh karenanya, bikin tanda salib yang tergesa-gesa
ayunan tangannya sambil bergumam ”baputdusmin” hakekatnya melecehkan Allah
Tritunggal Mahakudus. Ketahuilah bahwa membuat tanda salib adalah menghormati
Allah Tritunggal Mahakudus dan jika dilakukan dengan benar maka sang pelaku
mendapat berkah dan rahmat Tuhan.
Bahwa ketika
membuat tanda salib perkataan kita bukan dengan awalan ”Atas nama Bapa….” melainkan yang benar adalah dengan awalan
”Dalam nama Bapa….” Hal ini sejalan dengan tradisi bahwa dimana-mana awalannya
selalu dengan kata ”in” misalnya ”In the name of the Father…”. Ungkapan
dalam bahasa Jawa yaitu “Konjuk ing Asmo Dalem Hyang Romo….”, sebagai
padanan ungkapan “in” tadi. Artinya dalam tradisi Jawa orang selalu melakukan
apapun dengan sikap batin bahwa semuanya hanya dihunjukkan kepada Allah
Tritunggal Mahakudus.
Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan
hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang
sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita
dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa
adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak
cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas,
maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan,
“Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. Sebab Allah jauh melebihi
manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap
tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman,
karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam
Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan
bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit
menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati
terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang
terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.
Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal
dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu
sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa,
Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap
dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah
seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan
yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup,
sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan
perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang
bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada
Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus
menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab
Suci.
Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan
adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi
pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi
ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat
menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari,
segitiga, maupun kopi susu.

" שמע ישראל יהוה אלהינו יהוה אחד. ואהבתא את יהוה אלהיך בכל לבבך ובכל נפשך ובכל מאדך ואהבתא לרעך כמוך. "
ReplyDelete☝👇
" Shema Yisrael YHWH ( Adonai ) Eloheinu YHWH ( Adonai ) ekhad. V'ahavta et YHWH ( Adonai ) Eloheikha bekol levavkha uvkol nafsheka uvkol meodekha v'ahavta lereakha kamokha. "
☝👇
" Dengarlah, hai Israel: YHWH ( Adonai ) Elohim kita: YHWH ( Adonai ) itu satu. Dan kasihilah YHWH ( Adonai ) Elohimmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. "
( Ulangan 6 : 4 - 5, Imamat 19 : 18, Markus 12 : 29 - 31 )
🕎✡🐟✝🕊🇮🇱