2013-02-04

Pandangan Gereja Katholik Tentang Allah Tritunggal


Pandangan Gereja Katholik  Tentang Allah Tritunggal

”Tuhan kita Satu” dari Kitab Ulangan tersebut adalah Tuhan menyatakan sendiri kepada Musa. Keyakinan tersebut telah lama hidup di kalangan bangsa Yahudi. Selanjutnya, Yesus melalui kehadiranNya mengajarkan bahwa Tuhan yang satu itu hakekatnya memiliki tiga pribadi. Bahwa sejak dua ribu tahun yang lalu sudah dijelaskan Yesus bahwa Tuhan yang hakekatnya satu itu memiliki tiga pribadi yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh dari Allah Bapa dan Allah Putra.
Bahwa Tritunggal Mahakudus itu ada sejak awal mula dan sepanjang segala abad. Pandangan yang memenggal-menggal perjanjian lama adalah era Allah Bapa, perjanjian baru adalah era Allah Putra dan sekarang adalah era Allah Roh Kudus adalah sangat salah menurut iman Katolik. Romo dengan mantap menjelaskan bagaimana Allah Tritunggal Mahakudus ada di setiap jaman secara bersama-sama dan utuh dalam kerjasama ilahi yang melampaui akal manusia.
 Masih ada tradisi di Italia dan beberapa negara Eropa bahwa ketika orang mengucapkan atau melagukan kalimat ”Kemuliaan kepada Bapa, Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad, amin” dilakukan sambil menundukkan badan dengan penuh hormat ke arah Salib Yesus.
Bagaimana membuat tanda salib yang benar, sebab tanda salib merupakan identitas orang Katolik. Menurut tradisi lama orang membuat tanda salib dengan tiga jari yang disatukan yaitu jempol, telunjuk dan jari tengah. Ketiga jari yang disatukan ini melambangkan Allah Tritunggal Mahakudus. Kemudian, titik yang disentuh ketika membuat tanda salib adalah bagian tengah dahi, pusar dan lengan kiri dan kanan. Waah ternyata puser yang disentuh bukan tengah dada. Romo menjelaskan bahwa artinya ayunan tiga jari tadi jauh-jauh, yaitu dari dahi ke pusar kemudian ke bahu kiri dan kanan, maka melambangkan bahwa Allah Tritunggal Mahakudus ingin memeluk seluruh realitas kehidupan. Oleh karenanya, bikin tanda salib yang tergesa-gesa ayunan tangannya sambil bergumam ”baputdusmin” hakekatnya melecehkan Allah Tritunggal Mahakudus. Ketahuilah bahwa membuat tanda salib adalah menghormati Allah Tritunggal Mahakudus dan jika dilakukan dengan benar maka sang pelaku mendapat berkah dan rahmat Tuhan.
Bahwa ketika membuat tanda salib perkataan kita bukan dengan awalan ”Atas nama Bapa….” melainkan yang benar adalah dengan awalan ”Dalam nama Bapa….” Hal ini sejalan dengan tradisi bahwa dimana-mana awalannya selalu dengan kata ”in” misalnya ”In the name of the Father…”. Ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu “Konjuk ing Asmo Dalem Hyang Romo….”, sebagai padanan ungkapan “in” tadi. Artinya dalam tradisi Jawa orang selalu melakukan apapun dengan sikap batin bahwa semuanya hanya dihunjukkan kepada Allah Tritunggal Mahakudus.

Dari mana kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah Tritunggal?
Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.
Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.
Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari, segitiga, maupun kopi susu.

1 comment:

  1. " שמע ישראל יהוה אלהינו יהוה אחד. ואהבתא את יהוה אלהיך בכל לבבך ובכל נפשך ובכל מאדך ואהבתא לרעך כמוך. "
    ☝👇

    " Shema Yisrael YHWH ( Adonai ) Eloheinu YHWH ( Adonai ) ekhad. V'ahavta et YHWH ( Adonai ) Eloheikha bekol levavkha uvkol nafsheka uvkol meodekha v'ahavta lereakha kamokha. "
    ☝👇

    " Dengarlah, hai Israel: YHWH ( Adonai ) Elohim kita: YHWH ( Adonai ) itu satu. Dan kasihilah YHWH ( Adonai ) Elohimmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. "
    ( Ulangan 6 : 4 - 5, Imamat 19 : 18, Markus 12 : 29 - 31 )
    🕎✡🐟✝🕊🇮🇱

    ReplyDelete